Papa dan aku... entahlah...
Sejenak ku termangu, pikiranku kosong yang dengan mudahnya dirasuki oleh jin manapun. Deret tulisan formal yang hanya tinggal dibaca di depan penghulu dan para tamu itu seakan lari terbirit-birit menyisakan lembar kertas putih yang kosong.
Ini adalah momen dimana pengantin wanita memohon kepada ayahnya untuk dinikahkan oleh orang yang diciintainya. Dan inilah saat terberat bagi perempuan manapun untuk meminta izin, memohon restu sang ayah untuk kehidupan barunya.
Perkara mudah ini tiba-tiba saja menjadi berat, menggantung di ujung lidah. Semua buyar ketika kutatap wajah tua di depanku yang lelah namun sangat bahagia.
Papa adalah orang yang namanya hanya disebut satu kali terakhir setelah tiga kali nama mama kusebutkan. Ia tak pernah merasakan lelah mengandung selama sembilan bulan atau meregang nyawa untuk melahirkan. Surga juga tak berada di telapak kakinya. Namun pengorbanannya menjadi nyawa seumur hidupku.
Papa dengan didikannya yang tegas, membuatku berkali-kali ingin marah dan lari dari rumah. Begitu keras, menggojlok anak-anak perempuannya agar setangguh laki-laki. Penuh aturan yang terlambat kuketahui bahwa itu untuk kebaikan kami semua. Mengajari kami filosofi Fatimah Az Zahra yang membuatku jatuh hati selamanya pada sosok wanita agung itu; memberi dalam ketidakpunyaan.
Papa adalah pahlawan, menjaga setiap inchi hidupku dengan nyawanya. Papa adalah air kehidupan, mempertahankan aliran darah dan udara agar aku terus berdiri menjalani hari-hari. Papa adalah sahabat, tempatku mengadu dan melemparkan semua masalah-masalah pelik. Papa adalah guru dari pengalaman-pengalaman pahit yang dialaminya dulu, menurunkan intisari hikmah pada kami...
Ah, Papa...
Aku masih ingat masa-masa kecil kami bersamamu. Susah dan senang. Berlumur hutang demi pendidikan terbaik yang bisa kami terima. Dicaci orang demi membela keluarga. Rela kelaparan demi membagi sekotak besek kenduri untuk dinikmati bersama kami. Juga disaat jaya, mewanti-wanti agar kami tak hilang arah dimabuk kesenangan. Meskipun aku tahu tentang kehadiran wanita misterius itu, kuteguhkan diri untuk percaya kalau itu hanya sementara. Dan ia membuktikannya dengan sempurna.
Tuntutanku tak putus padanya...
Pa, ingin boneka Barbie...
Pa, ingin tas seperti itu...
Pa, ingin jalan bersama teman tapi tak punya ongkos...
Pa, ingin ini...
Pa, ingin itu...
Pa, aku akan menikah... maukah papa memberikan restu untukku dan laki-laki disebelahku yang sangat aku cintai?
Dia tak seperti harapan Papa secara materil, tapi aku melihat diri Papa dalam dirinya. Penuh kasih sayang dan tangggung jawab..,
Seakan tugasku adalah menuntut terus dan terus tanpa memberi kembali padamu
Seakan kau dikutuk oleh semua kenakalanku yang membuatmu berpikir lebih mudah mengatur hewan piaraan daripada seorang anak perempuan
Maukah mengabulkan permintaanku yang ini, Pa?
Meskipun bagimu adalah melepaskan gadis kecil yang dulu sering tertidur di pelukanmu setelah merengek dibacakan buku yang tak pernah kau tolak walaupun tubuhmu seudah lelah seharian bekerja...
Kau boleh sedikit lega, Pa. Karena tanggung jawabmu akan gadis bengal ini akan berpindah pada laki-laki di hadapanmu. Yang siap menanggung resiko dan hal-hal yang telah kau ketahui tentang diriku tapi ia masih bertanya-tanya...
Aku tak perlu kalimat hitam di atas putih untuk meminta doa tulusmu. Aku hanya perlu tersenyum tak perduli berapa liter air mata yang kutumpahkan hingga hitam menyapu maskara. Kau tahu maksudku, Pa. Kau tahu betapa aku menyayangimu dan takkan pernah menggantikan tempatmu dihatiku...
I Love U, Pa...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar